Sunday, 21 April 2013

Earth Day 2013: The Face of Climate Change


Every year on April 22, more than one billion people take part in Earth Day. Across the globe, individuals, communities, organizations, and governments acknowledge the amazing planet we call home and take action to protect it.

Earth Day 2013: The Face of Climate Change

Climate change has many faces.
A man in the Maldives worried about relocating his family as sea levels rise, a farmer in Kansas struggling to make ends meet as prolonged drought ravages the crops, a fisherman on the Niger River whose nets often come up empty, a child in New Jersey who lost her home to a super-storm, a woman in Bangladesh who can’t get fresh water due to more frequent flooding and cyclones…
And they’re not only human faces.
They’re the polar bear in the melting arctic, the tiger in India’s threatened mangrove forests, the right whale in plankton-poor parts of the warming North Atlantic, the orangutan in Indonesian forests segmented by more frequent bushfires and droughts…
These faces of climate change are multiplying every day.
For many, climate change can often seem remote and hazy – a vague and complex problem far off in the distance that our grandchildren may have to solve. But that’s only because they’re still fortunate enough to be insulated from its mounting consequences. Climate change has very real effects on people, animals, and the ecosystems and natural resources on which we all depend. Left unchecked, they’ll spread like wildfire.
Luckily, other faces of climate change are also multiplying every day.
Every person who does his or her part to fix the problem is also a Face of Climate Change: the entrepreneurs who see opportunity in creating the new green economy, the activists who organize community action and awareness campaigns, the engineers who design the clean technology of the future, the public servants who fight for climate change laws and for mitigation efforts, the ordinary people who commit to living sustainably…
On April 22, 2013, more than one billion people around the world will take part in the 43rd anniversary of Earth Day. From Beijing to Cairo, Melbourne to London, Rio to Johannesburg, New Delhi to New York, communities everywhere will voice their concerns for the planet, and take action to protect it. We’ll harness that power to show the world The Face of Climate Change. And we’ll call on our leaders to act boldly together, as we have, in this pivotal year.
Between now and Earth Day, we’ll collect and display images of people, animals, and places directly affected or threatened by climate change – as well as images of people stepping up to do something about it. We’ll tell the world their stories. But we need your help. We need you to be climate reporters. So, send us your pictures and stories that show The Face of Climate Change.
On and around Earth Day, an interactive digital display of all the images will be shown at thousands of events around the world, including next to federal government buildings in countries that produce the most carbon pollution. The display will also be made available online to anyone who wants to view or show it.
Together, we’ll highlight the solutions and showcase the collective power of individuals taking action across the world. In doing so, we hope to inspire our leaders to act and inspire ourselves to redouble our efforts in the fight against climate change.


Saturday, 23 February 2013

Keretapi Sarong 2013 (23.02.2013)

Hari ini melibatkan diri dalam program anjuran Random Alphabets dalam 'Keretapi Sarong' 2013. Program yang tiada unsur politik dan zalim hanya sekadar promosi mengenai kain sarong yang telah digunakan oleh nenek moyang kita dulu.

Sedikit gambar..So tak sempat untuk sampai penghujung jalan kerana perlu amik umi junior..so sikit gambar bersama junior dengan berkongsi Sarong..

Jimat duit ayah..guna sarong je untuk bawak awak

Produk : Kain Dukung
Material : Kain Cotton Sarong Benang-Benang
Maksimum : 0-24 bulan (bergantung pada yang ayah/mak larat)
Harga : RM10.00 SAHAJA






Wednesday, 30 January 2013

“Great Wall” Ngarai Sianok Bukittinggi Diresmikan Hari Ini



Gambar. Ngarai Sianok, Bukittinggi
Sewaktu SMA penulis sangat menyenangi bermain di Ngarai Sianok, Bukittinggi. Bersama teman-teman meneruni  lembah lalu bersenda gurau berkejaran digemericiknya sungai, kemudian menaiki jenjang di terjal bukit  adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Apalagi yang paling seru adalah menikmati pemandangan lembah Ngarai Sianok dari atas jembatan gantungnya berketinggian lebih kurang 100 m  yang memacu adrenalin pas  ada angin kencang, apalagi goyangannya bisa bikin wanita disamping anda, tanpa pikir panjang akan memeluk anda! hehe…
Setelah lama diperantauan penulis pernah  mendengar bahwa jembatan gantung dan jenjang ditebing Ngarai Sianok tersebut dilarang untuk umum, karena kondisinya yang tidak aman untuk dilalui, seperti jenjangnya yang sudah banyak rusak kemudian tidak terawat apalagi disekelilingnya  semak-semak belukar dan pepohonan bak jenjang ditengah hutan yang rawan kejahatan, lalu jembatannya yang papannya sudah banyak yang copot dan lapuk.

Gambar. Jembatan gantung lama, Ngarai Sianok Bukittinggi ketika masih bisa dilalui.

13593014851626220888

gambar. Jembatan Gantung ngarai sianok ketika sudah rusak
Nah, berita dari kawan pagi ini membuat penulis penasaran, katanya jenjang dan jembatan yang dulu kami lalui sekarang sudah rampung dipugar dengan sumbangan dana dari para perantau Bukittinggi.  Bentuknya pun sangat luar biasa mirip  “Great Wall” di Cina. Jenjangnya lebih lebar, ada tembok penghalang kiri kanan serta jenjang gantungnya pun baru.  Berikut kiriman photo-photo dari kawan tersebut:


Photo ini katanya diambil sebelum acara peresmian penggunaan jenjang dan jembatan tersebut untuk umum dimulai. Pada photo diatas sepertinya diambil dari arah Bukittinggi tepatnya di Taman Panorama Ngarai Sianok Bukittinggi menuruni tebing ke arah gerbang jembatan ditepi tebing agak dibawahnya.


Inilah jembatan gantung baru tersebut yang berada diatas ketinggian lebih kurang  100 m dari dasar  lembah ngarai sianok, dari sini kita dapat menikmati pemandangan lembah ngarai sianok yang berliku dan anak sungai yang mengalir dibawahnya. Siapa tahu dapat juga pemandangan bagus berupa muda-mudi yanga syik masyug berdua di sela rimbuan pohon dibawahnya hehehe.
Sedang diseberangnya adalah jalan dan jenjang menuju Koto gadang yang sudah masuk daerah kabupaten Agam. Jembatan ini  menghubungkan dua daerah pemerintahan yang berbeda yaitu Kota Bukittinggi dan Kabupaten agam walau sebenarnya dua daerah ini dulunya satu. (Bukittinggi dulunya ibukota kabupaten agam).
Penulispun mendapat kiriman kegiatan peresmian jenjang dan jembatan gantung baru tersebut untuk umum. Berikut photo-photonya :


“Great Wall” yang dikenal dengan Jembatan Koto Gadang ini dibuat permanen menyerupai Great Wall di cina, cuma bedanya di Bukittinggi ditambah dengan jembatan gantung yang melintasi lembah ngarai sianok. Di photo terlihat warga menikmati jenjang dan jembatan gantung baru yang akan jadi tempat wisata baru bagi pengunjung yang berwisata ke Bukittinggi.


Persemian jenjang dan jembatan baru Ngarai sianok untuk umum ini dihadiri oleh Menkoinfo  Tifatul Sembiring yang merupakan orang Bukittinggi. Menurut berita sekitar seribu lebih warga bukittinggi sangat antusias mengikuti acara ini dan rela antri selama 2 jam untuk mencoba melewati jenjang dan jembatan gantung yang diberi nama “Jenjang  Koto Gadang “  karena panitia membatasi hanya 10 orang bergantian diatas jembatan gantung  tersebut.

Wednesday, 16 January 2013

Tarian Piring ( Tari Piriang )


Tari Piring




Tari Piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang adalah salah satu seni tari tradisonal di Minangkabau yang berasal dari kota Solok, provinsi Sumatera Barat. Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piring sebagai media utama. Piring-piring tersebut kemudian diayun dengan gerakan-gerakan cepat yang teratur, tanpa terlepas dari genggaman tangan.


Sejarah

Pada awalnya, tari ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang kemudian diletakkan di dalam piringsembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.
Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tradisi tari piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.


Gerakan

Gerakan tari piring pada umumnya adalah meletakkan dua buah piring di atas dua telapak tangan yang kemudian diayun dan diikuti oleh gerakan-gerakan tari yang cepat, dan diselingi dentingan piring atau dentingan dua cincin di jari penari terhadap piring yang dibawanya. Pada akhir tarian, biasanya piring-piring yang dibawakan oleh para penari dilemparkan ke lantai dan kemudian para penari akan menari di atas pecahan-pecahan piring tersebut.
Tarian ini diiringi oleh alat musik Talempong dan Saluang. Jumlah penari biasanya berjumlah ganjil yang terdiri dari tiga sampai tujuh orang. Kombinasi musik yang cepat dengan gerak penari yang begitu lincah membuat pesona Tari Piring begitu menakjubkan. Pakaian yang digunakan para penaripun haruslah pakaian yang cerah, dengan nuansa warna merah dan kuning keemasan.